Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang

PT Weda Bay Nickel (WBN) telah mereklamasi 223,43 hektare lahan pascatambang hingga Maret 2026. Reklamasi dilakukan di sejumlah area operasional perusahaan, termasuk Kao Rahai, Biri-Biri, dan Tofu di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Kegiatan reklamasi merupakan bagian dari pengelolaan lingkungan yang dilakukan seiring dengan operasional pertambangan.
Proses reklamasi meliputi penataan kembali kontur lahan, penanaman berbagai jenis vegetasi, serta pemantauan pertumbuhan tanaman untuk mendukung pemulihan area yang telah selesai ditambang.
"WBN terus melanjutkan langkah-langkah strategis tersebut guna meminimalkan dampak kegiatan operasionalnya terhadap lingkungan sekitar. Reklamasi menjadi bagian dari upaya pemulihan fungsi ekologis kawasan operasional tambang," ujar Manager Health, Safety, and Environment Weda Bay Nickel, Ronggour Siahaan, dilansir dari keterangan tertulis, Jumat (17/7/2027).
Sementara itu, revegetasi dilakukan secara bertahap sesuai rencana reklamasi pasca tambang yang telah disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Revegetasi yang dilakukan secara bertahap juga diselaraskan dengan berbagai ketentuan lainnya.
Kegiatan reklamasi didukung fasilitas nursery Weda Bay Nickel seluas 2,02 hektare. Fasilitas nursery memungkinkan Weda Bay Nickel yang menyiapkan dan membudidayakan berbagai jenis tanaman yang dibutuhkan untuk revegetasi di area reklamasi pascatambang.
Menurut Ronggour, reklamasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus operasional perusahaan. Perusahaan menjalankan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari setiap tahapan operasional, mulai dari perencanaan dan pelaksanaan, sampai pemantauan maupun pemulihan area yang telah selesai ditambang.
"Berbagai kegiatan yang melibatkan karyawan dan mitra kerja juga turut memperkuat budaya tersebut, sehingga tanggung jawab lingkungan dapat diterapkan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari,” tutur Ronggour.
Pilah sampah
Selain reklamasi, perusahaan menanam 1.000 bibit pohon di area Kao Rahai, Biri-Biri, dan Tofu pada Juni 2026. Weda Bay Nickel juga menggelar kegiatan Clean Up Day di sejumlah area hunian karyawan dan kontraktor. Dalam kegiatan ini, peserta membersihkan area sekitar sekaligus memilah sampah berdasarkan jenisnya guna membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Bersama para kontraktornya, Weda Bay Nickel juga menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle melalui pengelolaan dan pemanfaatan kembali material yang sudah tidak digunakan sebagai bagian dari praktik ekonomi sirkular. Material, seperti scrap metal dan drum bekasdiolah menjadi produk kreatif dan fungsional. Ini termasuk miniatur alat berat dan furnitur.
Seluruh kegiatan ini menjadi bagian dari inisiatif internal Weda Bay Nickel bertema 'Weda Today, Earth Tomorrow', yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Dengan inisiatif ini, Weda Bay Nickel menggarisbawahi bahwa kepedulian lingkungan perlu diterapkan pula dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya di ranah operasional pertambangan.
"Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan karyawan dan mitra kerja untuk mendukung praktik operasional pertambangan yang lebih bertanggung jawab serta meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar,” ucapnya.
Sebelumnya, PT Weda Bay Nickel telah mereklamasi lahan bekas tambang seluas 84,86 hektare lahan bekas tambang di kawasan operasionalnya di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Dalam kegiatan reklamasi tersebut, perusahaan menanam 53.037 batang tanaman pionir untuk memperbaiki struktur tanah, menstabilkan lahan, dan mendorong pemulihan tutupan vegetasi. Sebagai pemegang izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (PPKH), WBN juga telah menjalankan program rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 3.220 hektare di berbagai wilayah Maluku Utara, termasuk Halmahera Tengah, Halmahera Barat, Halmahera Timur, dan Halmahera Selatan.
Rehabilitation Superintendent Weda Bay Nickel, Fitri Ritonga mengatakan, reklamasi dan revegetasi dilakukan dengan pendekatan berbasis endemisitas, yaitu, menggunakan tanaman asli Maluku Utara seperti pala, kenari, cengkeh, kayu putih, dan tanaman lokal lain yang berperan penting dalam pemulihan habitat fauna endemik.
Untuk tahap awal pemulihan lahan, WBN menanam tanaman pionir berjenis cepat tumbuh seperti Golo, Makaranga, Nyatoh, Trembesi, Johar, dan Sengon. Jenis tanaman ini dipilih untuk menciptakan iklim mikro yang mendukung tumbuhnya spesies endemik di tahap berikutnya.
“Kami ingin memperkuat peran WBN sebagai pengelola sumber daya alam yang bertanggung jawab melalui penerapan kaidah pertambangan yang baik,” ucapnya, Minggu (16/11/2025).
Artikel Terkait

Permintaan Pertalite Naik, BPH Migas Minta Masyarakat Tak "Panic Buying"
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengimbau masyarakat tidak membeli bahan bakar2026-09-12
KPK Rampung Analisis Amplop Bupati Kuansing ke Raja Juli, Motif Didalami
KPK telah menyelesaikan proses verifikasi dan analisis terhadap pelaporan penolakan gratifikasi oleh2026-09-12
Nenek di Pasuruan Tewas Mengenaskan di Rumahnya, Kalung dan Gelang Raib
Melihat kondisi korban yang bersimbah darah, Siti panik dan langsung berteriak meminta bantuan kelua2026-09-12
Wakil Ketua DPRD Surabaya Dorong Semua OPD Buka Hotline Aduan Warga
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Bahtiyar Rifai mengapresiasi instruksi Wali Kota Eri Cahyadi yang mew2026-09-12
Prabowo Ingin Perbaikan MBG Dikaji Matang dan Tak Terburu-buru
Wakil Ketua Badan Gizi Nasional Agustina Arumsari mengungkap pesan Presiden Prabowo Subianto agar p2026-09-12
5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan bahwa dua kapal tanker minyak meledak pada Senin dini h2026-09-12

Komentar Terbaru